JAYAPURA — TPNPB Komando Daerah Pertahanan (Kodap) III Ndugama Darakma menyatakan bertanggung jawab atas penembakan yang menewaskan Aris Sanda, sopir lajuran rute Wamena–Mbua. Klaim itu disampaikan Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom melalui siaran pers tertulis, Rabu (16/9/2026), sehari setelah peristiwa terjadi.

Sambom menyebut Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB telah menerima laporan resmi dari Panglima Kodap III Ndugama Darakma, Brigjen Egianus Kogeya, bahwa pihaknya bertanggung jawab atas penembakan tersebut. Dalam pernyataannya, TPNPB menuding korban sebagai agen intelijen militer yang menyamar sebagai sopir.

Kronologi Penembakan di Pertigaan Danau Habema

Komando Operasi TNI Habema mencatat insiden bermula sekitar pukul 06.00 Waktu Papua di sekitar pertigaan Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya. Saat itu, rombongan kendaraan yang dikemudikan korban dihentikan sekelompok orang bersenjata.

Kelompok tersebut memeriksa pengemudi dan seluruh penumpang. Para penumpang diperintahkan kembali ke arah Wamena, sementara korban dibawa menuju kawasan Danau Habema.

Setelah menerima laporan, Koops TNI Habema melakukan pencarian dan penyisiran. Tim di lapangan menemukan satu unit kendaraan dalam kondisi terbakar beserta jenazah pengemudi di dalamnya pada Rabu (16/9/2026).

Korban Warga Toraja yang Melayani Rute Wamena–Mbua Sejak 2013

Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna menyatakan korban meninggal dunia akibat tindakan kekerasan oleh TPNPB. Menurut keterangan resmi TNI, Aris Sanda alias Bapak Tasya adalah sopir lajuran asal Toraja yang melayani rute Wamena–Mbua sejak 2013.

"Dalam kejadian tersebut, seorang pengemudi atas nama Aris Sanda alias Bapak Tasya, asal Toraja, dilaporkan menjadi korban tindakan kekerasan oleh kelompok bersenjata OPM Kodap III Ndugama, yang mengakibatkan korban meninggal dunia," kata Letkol Inf Wirya Arthadiguna dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9/2026).

Proses evakuasi jenazah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Aparat terus melakukan pendalaman kronologi dan mengumpulkan keterangan dari para saksi di lokasi kejadian.

Ultimatum TPNPB kepada Warga Pendatang di Jalur Trans Wamena

TPNPB mengeluarkan peringatan kepada warga pendatang agar tidak beraktivitas di wilayah yang mereka sebut zona perang. Sambom menyebut imbauan itu berlaku bagi warga imigran Indonesia yang bekerja sebagai tukang ojek, sopir taksi, dan ASN.

"Oleh sebab itu, kami sampaikan kepada warga imigran Indonesia yang bekerja sebagai tukang ojek, sopir taksi dan ASN agar hentikan aktivitasnya," kata Sebby Sambom dalam siaran pers tertulis, Rabu (16/9/2026).

Sambom menegaskan apabila imbauan itu tidak diindahkan, konsekuensinya ditembak mati karena TPNPB menganggap mereka bagian dari intelijen militer Indonesia yang beroperasi di wilayah konflik bersenjata. Ia menyebut ultimatum ini sebagai peringatan penting sesuai hukum humaniter internasional yang ditegakkan TPNPB.

TPNPB juga mengimbau seluruh sopir warga non-Papua untuk tidak melewati jalur trans di Wamena, kecuali orang asli Papua dan penumpang yang seluruhnya orang asli Papua.

"Pendatang, kami tidak izinkan masuk wilayah perang di Tanah Papua, sehingga jangan pernah lagi kami dapati warga imigran Indonesia di jalan raya," ucap Sebby Sambom.

Polisi Masih Bergerak ke Lapangan

Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo menyatakan aparat keamanan masih melakukan penyelidikan di lapangan. Ia membenarkan peristiwa terjadi sehari sebelum keterangan resmi dikeluarkan.

"Benar, kemarin kejadiannya. Anggota masih bergerak ke lapangan dan belum kembali," ujar Yusuf Sutejo dalam siaran pers, Rabu (16/9/2026).

Koops TNI Habema menyatakan akan melakukan pengejaran dan mendukung penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata yang terlibat dalam penembakan ini.

Reporter: Redaksi