Wagub Papua Tengah Deinas Geley Kenakan Adat Lani Lengkap di Upacara HUT RI ke-81 Nabire, Ini Maknanya

Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley mengenakan pakaian adat lengkap Suku Lani saat upacara HUT ke-81 RI di Nabire, Senin (17/8/2026).
Penulis: Redaksi
Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:28:02 WIB

NABIRE — Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley tidak mengenakan jas, peci, atau baju safari saat upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Nabire pada Senin (17/8/2026). Ia memilih tampil dengan pakaian adat lengkap Suku Lani dari Puncak Jaya.

Wajahnya dicoreng arang dan minyak dengan pola garis hitam tebal di dahi, pipi, dan dagu. Di tanah Lani, corak wajah semacam ini biasanya dipakai saat duka, perang, atau upacara adat besar. Hari itu, corak tersebut dikenakan di hari kemerdekaan.

Di kepalanya bertengger penutup hitam dari rajutan benang yang dihias pita merah putih, dengan bulu kasuari mengembang di atasnya. Ada pula bulu Cenderawasih merah di bagian depan. Kalung manik-manik merah bertingkat dan kalung biji kuning dengan liontin taring babi melingkar di lehernya.

Selempang tenun khas Lani dengan motif kotak dan garis melintang di bahunya. Warna merah, kuning, putih, dan hitam pada selempang itu masing-masing punya arti: darah dan perjuangan, tanah dan terang, damai, serta keteguhan.

Tangan kanannya menggenggam busur dan anak panah dari bambu, sementara tangan kiri memegang daun dan bunga hiasan kuning. Celana jeans biru dan ikat pinggang melengkapi penampilannya—perpaduan adat dan modern yang mencerminkan kondisi Papua hari ini.

Pengakuan Negara untuk Warga Pegunungan

Papua Tengah adalah provinsi baru yang dihuni banyak suku, seperti Mee, Moni, Wolani, Dani, dan Lani. Dengan mengenakan adat Lani di panggung negara, Deinas Geley mengirim pesan bahwa negara melihat dan menghormati warga Puncak Jaya.

Bagi orang Lani yang selama ini merasa jauh dari pusat pemerintahan, melihat anak daerahnya berdiri di Nabire dengan pakaian adat mereka menjadi kebanggaan tersendiri.

Busur dan Panah Bukan Tanda Perang

Busur dan anak panah yang dipegang Wagub bukan simbol permusuhan. Justru sebaliknya, itu tanda kesiapan menjaga tanah, rakyat, dan kemerdekaan. Kehadiran simbol Lani di Nabire yang berada di pesisir juga menjadi jembatan antara gunung dan laut, antara pedalaman dan kota.

Keputusan tampil dengan pakaian adat di acara resmi tidak selalu mudah. Ada yang menilai tidak rapi atau tidak sesuai protokoler. Namun pilihan ini menunjukkan keberanian politik dan kedekatan dengan akar budaya.

Pesan untuk Generasi Muda Lani

Penampilan Deinas Geley menjadi contoh nyata bagi anak-anak muda Lani di Puncak Jaya. Mereka bisa sukses dan menjadi pejabat tanpa harus meninggalkan adat istiadat. Ada orang Lani yang berdiri di samping bendera merah putih dengan busur di tangan—itu artinya, mereka bisa.

Di lapangan upacara yang biasanya formal dan kaku, kehadiran bulu kasuari, corak wajah, dan busur mengubah suasana. Warga yang menyaksikan merasa memiliki dan dihargai. Rasa memiliki itulah yang menjadi fondasi kuat bagi sebuah bangsa.

Seremoni Harus Dilanjutkan dengan Kebijakan

Pakaian adat yang dikenakan Wagub bukan sekadar tampilan seremonial. Ada harapan agar kebijakan pemerintah ke depan juga berpihak pada masyarakat adat. Pemerintah diminta mendengar tokoh adat, melibatkan gereja, menjaga hutan, dan memastikan pembangunan menjangkau daerah-daerah terpencil seperti Tiom, Ilaga, dan Mulia.

Setelah upacara usai, yang terpenting adalah bagaimana kemerdekaan dirasakan warga di kampung-kampung: akses sekolah, layanan kesehatan, dan infrastruktur jalan yang memadai.

Penampilan Wagub Papua Tengah dengan adat Lani di HUT ke-81 RI di Nabire akan dikenang bukan karena pakaiannya, melainkan karena pesan yang dibawanya: Indonesia kuat karena beragam, dan adat bukan penghalang kemajuan—melainkan bahan bakarnya.

Reporter: Redaksi