Breaking

Bupati Asmat Buka Festival Asmat Pokman ke-38, 219 Pengukir dan 86 Penganyam Lolos Seleksi

RE
Kamis, 08 Oktober 2026
Bupati Asmat Buka Festival Asmat Pokman ke-38, 219 Pengukir dan 86 Penganyam Lolos Seleksi

AGATS — Sebanyak 219 pengukir dan 86 penganyam dari sembilan titik seleksi di Kabupaten Asmat dinyatakan lolos kurasi karya dan tampil dalam Festival Asmat Pokman ke-38. Seleksi berlangsung pada 3–18 Agustus 2026 sebelum puncak acara dibuka Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo, Rabu (7/10/2026), di Lapangan Yos Sudarso, Agats.

Ketua Panitia FAP ke-38, Innocentius Rettobjaan, menyebut seleksi ketat dilakukan untuk memastikan Festival Asmat Pokman tetap menjaga keaslian karya, karakteristik wilayah, serta etika dalam berkarya. Antusiasme peserta dinilainya menunjukkan kuatnya akar budaya di tengah masyarakat Asmat.

Mengapa Festival Asmat Pokman Baru Digelar pada 2026

Bupati Thomas mengungkapkan FAP ke-38 sejatinya dijadwalkan pada 2025, namun sempat tertunda. Bencana kabut asap akibat kebakaran lahan di Papua Selatan serta efisiensi anggaran dari pemerintah pusat menjadi dua kendala utama yang membuat jadwal bergeser.

Meski begitu, niat Keuskupan, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk tetap menggelar acara sesuai jadwal tidak surut. Pemkab Asmat bersama Keuskupan Agats dan seluruh mitra menyatakan komitmen menyukseskan festival di tengah tekanan ekonomi yang berdampak pada sektor swasta dan daya beli masyarakat dalam dua tahun terakhir.

"Hari ini sejumlah tamu dari luar Asmat, seperti dari Jakarta dan Jayapura, masih tertahan di Timika, termasuk Anggota DPD RI Rudy Tirtayana. Rencana kedatangan Gubernur Papua Barat Daya Bapak Elisa Kambu dan rombongan juga masih dikoordinasikan," ujar Bupati Thomas.

Seni Ukir Asmat sebagai Identitas yang Dirawat dari Generasi ke Generasi

Bupati Thomas mengenang sejarah lahirnya festival ini. FAP yang awalnya merupakan lomba ukir tradisional bertransformasi menjadi pesta budaya berkat inisiatif gereja. Upaya itu dijalankan konsisten untuk menjaga, merawat, dan mewariskan seni ukir Asmat agar tidak tergerus zaman.

Sejak Asmat menjadi kabupaten definitif pada 2005 di bawah kepemimpinan Yuvensius A. Biakai, dilanjutkan Elisa Kambu, hingga masa kepemimpinannya saat ini, Pemkab Asmat selalu mendukung penuh pelestarian budaya tersebut.

"Seni ukir tidak boleh hilang. Ini adalah identitas budaya kita, jati diri kita. Gereja telah berupaya bersungguh-sungguh untuk menjaga, merawat, dan mewariskan kebudayaan Asmat," tegas Bupati Thomas.

Agenda Empat Hari: Pameran Budaya hingga Stan UMKM

Innocentius menjelaskan arah kebijakan tahun ini memfokuskan festival untuk memperkuat seni ukir sebagai tradisi dan identitas budaya suku Asmat. Selain pameran seni budaya, acara diramaikan stan UMKM, kegiatan edukasi, pariwisata, dan berbagai agenda non-kompetisi yang melibatkan masyarakat luas.

Selama empat hari ke depan, rangkaian kegiatan dirancang memadukan unsur budaya, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan promosi daerah secara terpadu. Festival berlangsung hingga 10 Oktober 2026.

Sumber: seputarpapua.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua